Minggu, 14 Juni 2009

Malam Pertama

Meskipun malam itu bulan tertutup awan, namun
keindahannya bagi Furqan sulit dilukiskan. Setelah satu hari
penuh menerima tamu yang datang pergi bergantian, akhirnya
ia dan Anna bisa masuk kamar pengantin yang telah disiapkan
tepat jam sembilan.
Ia melepas peci dan jas putihnya yang ia pakai sejak jam
tiga. Anna melepas gaun pengantin putihnya perlahan. Ia
memperhatikan isterinya melepas gaun pengantinnya itu
dengan jantung berdegup kencang. Setelah jilbab dilepas
tampaklah Anna dengan rambut hitamnya yang tergerai
berkilauan. Di balik gaun pengantin Anna temyata masih
memakai rangkapan kaos putih ketat dan bawahan putih tipis.
Anna tersenyum tipis pada Furqan.
265
Kedua kaki Furqan bagai terpaku di tempatnya. Seluruh
syarafnya bergetar. Hatinya dingin. Ada gelombang
kebahagiaan luar biasa yang bagai memusat di ubun ubun
kepalanya.
Anna meraih parfum, bau wangi yasmin nan suci merasuk
ke hidung Furqan. Merasuk ke seluruh aliran darah Furqan.
Anna menyibakkan rambutnya dan mengulurkan kedua
tangannya sambil duduk di tepi ranjang yang bertabur bunga
kebahagiaan.
”Ayolah sayang, peganglah ubun-ubun kepalaku. Dan
bacalah doa barakah sebagaimana para shalihin melakukan hal
itu pada isteri mereka di malam pertama mereka yang bahagia.”
Kata-kata Anna bening dan bersih.
Furqan tergagap, ia kikuk, ia lupa pada dunia. Ia lupa pada
perasaan sedihnya yang selama ini menderanya. Ia melangkah,
ia ingat sunnah itu. Sunnah memegang ubun ubun kepala isteri
di malam pertama ketika pertama kali bertemu. Tapi ia lupa
doanya. Ia lupa apa doanya.
Ia mengingat-ingat tapi tidak juga ingat. Yang penting ia
maju dan mencium kening isterinya.
Furqan duduk di samping Anna. Bau wangi yasmin dan
bau tubuh Anna begitu kuat ia rasa. Anna memejamkan mata.
Furqan memegang ubun-ubun isterinya dengan dada bergetar.
Ia tidak bisa berdoa apa-apa. Ia hanya mengatakan,
“Bismillahi, Allahumma.” Seterusnya tidak jelas. Anna larut
dalam perasaan bahagianya. Ia sudah menyerahkan jiwa dan
raganya seutuhnya pada suaminya.
266
Anna membaca ’amin’ dengan mata berkaca-kaca. Lalu
dari pojok kedua matanya, aliran hangat meleleh ke pipi.
Furqan mengusap air mata yang mengalir di pipi isterinya.
Ia lalu mengusap rambutnya isterinya yang halus. Lalu perlahan
Furqan mencium pipi isterinya. Ciuman yang membuatnya
bagai melayang karena bahagia.
Anna membuka matanya. Furqan memandangi wajah
isterinya dengan penuh kasih sayang dan cinta. Kedua mata
suami isteri itu bertemu. Hati Furqan berdesir saat melihat bibir
Anna yang ranum.
Saat ia hendak menciumnya, Anna berkata,
“Mari kita shalat dulu dua rakaat Mas. Kita bersihkan jiwa
dan raga kita dari segala kotoran. Agar apa yang kita lakukan
mulai saat ini sebagai suami isteri bersih, ikhlas semata-mata
karena Allah. Bukan karena syahwat atau pun birahi. Bukankah
itu yang dilakukan para shalihin sejak awal mereka berumah
tangga?”
Furqan menarik dirinya. Ia jadi malu pada Anna. Kenapa ia
begitu tergesa-gesa. Kenapa ia hanya memperturutkan
nafsunya. Furqan beranjak ke kamar mandi untuk mengambil
air wudhu. Kamar itu memang dilengkapi dengan kamar mandi
di dalam kamar. Setelah Furqan wudhu gantian Anna yang
wudhu. Furqan kembali memakai jas dan pecinya. Sedangkan
Anna langsung memakai mukena yang telah dipersiapkannya.
Furqan menjadi imam. Ia membaca surat Al Insyirah dan
An Nasr.
267
Anna makmum di belakangnya dengan khusyu’. Dalam
sujudnya Anna memohon agar ia diberi barakah dan kebaikan
di dunia dan di akhirat. Agar rumah tangganya sakinah,
mawaddah dan rahmah.
Usai shalat Furqan berdoa secara umum untuk kebaikan
dunia dan akhirat. Anna mencium tangan suaminya dengan
penuh cinta. Furqan memandangi isterinya yang bercahaya
dibalut mukena putihnya.
”Kenapa Mas Furqan membaca doa umum, bukan doa
khusus untuk kita sebagai pasangan yang baru menikah?” Pelan
Husna sambil tersenyum pada Furqan.
”Mas gugup Dik. Jadi lupa. Nanti kita bisa berdoa lagi
kan?” Jawab Furqan diplomatis.
”Nggak apa-apa? Mas mau melakukan itu sekarang?”
“Iya.”
“Apa Mas tidak letih?”
“Tidak.”
“Baiklah. Tapi Anna ambil air minum ke bawah dulu ya
Mas? Sebentar saja. Anna haus.”
“Mas tunggu.”
Anna melangkah keluar kamar tetap dengan memakai
mukenanya.
268
Furqan melepas kembali jas dan pecinya. Ia juga melepas
kemejanya.
Ia bersiap untuk melalui detik detik paling membahagiakan
dan paling bersejarah dalam hidupnya. Ia mendengar
handphonenya berdering. Ada sms masuk. Ia ambil han
phonenya yang ada dalam saku jasnya. Ia buka. Ada tiga sms
dari Ustadz Mujab, Cairo. Ia tersenyum. Ia baca.
”A
khi
, selamat ya
. Barakallahu laka wa baar aka ’alaika wa
jama’a bainakuma fi khair.
Semoga rumah tangga kalian
sakinah, mawaddah wa rahmah. Sakinah maknanya pasangan
suami isteri itu menjadi tempat yang nyaman untuk berbagi
perasaan, berbagi suka dan duka. Mawaddah artinya benar-
benar saling mencintai. Dan rahmah artinya saling mengasihi,
saling merahmati, saling menyayangi. Rahmah di sini menurut
ulama berarti pasangan suami isteri tidak ada tindakan saling
menyakiti sedikitpun. Suami tidak menyakiti isteri. Baik ragawi
maupun rohani. Dan sebaliknya.
Jagalah isterimu. Perlakukan dengan sebaik-baiknya.
Jangan kamu sakiti sedikitpun. Bertakwalah kepada Allah.
Selamat menempuh hidup baru. Mujab.”
Ia bahagia membaca sms itu. Namun juga tersentak bagai
tersengat aliran listrik. Ia sangat mencintai Anna. Namun ia tidak
boleh menyakitinya. Sedikitpun. Tanpa ia minta ia kembali
teringat virus yang ia rasa bercokol dalam dirinya. Virus HIV.
Jika ia melakukan itu sekarang, apakah ia tidak menyakiti Anna.
Bagaimana kalau Anna tertular HIV?
Kesedihan dan nestapa tiba-tiba mendera dirinya. Ia tidak mau
mengkhianati dirinya sendiri. Ia sangat mencintai Anna, ia tidak
269
mau menyakitinya. Keinginannya untuk melakukan ibadah
biologis perlahan-lahan surut.
”A
ssalamu’alaikum.”
Sapa Anna pelan membuka pintu.
Senyum putri Kiai Lutfi itu mengembang. Anna datang
membawa gelas berisi air agak kuning kecoklatan.
”Mas minumlah ini dulu. Ini madu. Biar lebih fres dan
bugar.”
Kata Anna sambil mengulurkan gelas yang ia bawa pada
Furqan yang duduk di tepi ranjang. Furqan menerimanya
dengan tangan bergetar. Ia paksakan untuk tersenyum pada
isterinya. Anna balas tersenyum. Furqan meminum air madu itu
teguk demi teguk sampai habis. Lalu meletakkan di meja rias
dekat ranjang. Anna melepas mukenanya, lalu duduk di
samping Furqan.
”Aku siap beribadah Mas. Aku sudah siap untuk
menyerahkan jiwa dan raga. Aku siap untuk menjadi lempung
di tangan seorang pematung. Dan Mas Furqanlah sang
pematung itu.” Kata Anna sambil perlahan hendak melepas
kaos putih ketat yang menempel tubuhnya. Dada Furqan
berdesir kencang. Ia ingin memeluk tubuh isterinya itu dengan
penuh cinta. Namun ia teringat virus HIV yang bercokol dalam
tubuhnya. Dengan mata berkaca kaca ia memegang tangan
isterinya.
”Dik, jangan sekarang ya? Letih. Besok saja.” Lirihnya
pada Anna.
”Benar besok? Tidak sekarang?” Tanya Anna.
270
”Iya besok saja. Kita istirahat saja dulu. Tak usah tergesa-
gesa ya.”
“Anna ikut Mas saja. Tapi kenapa Mas menangis?”
“Mas sangat terharu akan ketulusanmu. Mas juga menangis
karena sangat bahagianya. Mas seperti mimpi bisa memiliki
isteri sepertimu.”
“Anna juga sangat bahagia Mas. Mas adalah imam Anna,
pelindung Anna, Murabbi Anna, juga insya Allah ayah dari
anak-anak Anna kelak. Tahu tidak Mas. Kemarin malam Abah
bermimpi yang menurut Ummi adalah mimpi tentang Mas.
Mimpi yang sangat menakjubkan.”
“Mimpi apa itu Dik?”
“Abah bermimpi melihat gugusan bintang. Terus ada
bintang yang sangat terang cahaya. Paling terang di antara
lainnya. Bintang itu turun dan bersinar di atas mimbar masjid
pesantren. Terus Abah juga melihat beberapa tunas pohon
kelapa yang menakjubkan yang tumbuh tepat di halaman
pesantren. Dan Abah menemukan sorban Kiai Sulaiman Jaiz
yang sangat wangi di kamar Anna ini.
”Menurut Ummi mimpi itu adalah sebuah petunjuk penting
menjelang pernikahan ini. Bintang itu menurut Ummi adalah
Mas.
Karena Mas-lah nanti yang insya Allah akan menggantikan
Abah.
Mas-lah bintang di mimbar pesantren itu. Lalu tunas-tunas
271
pohon kelapa itu adalah anak-anak hasil pernikahan kita. Dan
sorban itu menurut Ummi bisa jadi menunjukkan kepada kita
Mas bertalian darah dengan Kiai Sulaiman Jaiz.”
“Siapa itu Kiai Sulaiman Jaiz Dik?”
“Pendiri pesantren ini, yang sampai sekarang tidak
diketahui rimbanya.”
“Apa Kiai Sulaiman pernah ke Betawi.”
“A
llahu a’lam.”

Semoga takwil ibumu itu benar.”
“Semoga. Amin.”
Malam itu Furqan tidak tidur sepicing pun. Meskipun
matanya memejam tapi pikiran dan hatinya terus terjaga.
Sesekali ia membuka matanya lalu memandangi isterinya yang
tidur di sampingnya. Wajah isterinya begitu bersih jelita. Ia ingin
menciumnya tapi ia urungkan karena khawatir mem-
bangunkannya.
Di dalam dadanya seperti ada bara yang membara. Bara
cinta, juga bara nafsu pada isterinya. Pada saat yang sama juga
ada bara kemarahan yang ia tidak tahu dari mana datangnya.
Ia marah pada dirinya sendiri. Marah pada virus HIV yang ia
rasa bercokol dalam seluruh sel dan aliran darahnya. Malam ini
ia berkukuh untuk tidak menyakiti isterinya. Tapi ia bertanya
sendiri pada dirinya, kalau setiap hari bertemu dan tidur satu
ranjang dengan isterinya yang begitu jelita apakah ia akan selalu
mampu menahan diri.
272
Terus harus bagaimana?
Anna telah sah jadi isterinya. Sah untuk ia apa-apakan. Bahkan
Anna sudah menyerahkan seluruh jiwa raganya padanya.
Dengan tulus Anna tadi berkata padanya,
“Aku siap beribadah Mas. Aku sudah siap untuk
menyerahkan jiwa dan raga. Aku siap untuk menjadi lempung
di tangan seorang pematung. Maslah sang pematung itu.” Maka
alangkah ruginya jika ia tidak menikmati kebahagiaan ini
setuntas tuntasnya. Kenapa memperdulikan virus HIV? Sudah
menjadi risiko Anna karena menikah dengannya terkena virus
HIV.
Semua orang toh punya risiko terkena penyakit. Tak
terkecuali Anna.
Begitulah suara rasionya bergemuruh menghasutnya.
Namun dengan sangat halus dan lembut nuraninya
mengingatkan bahwa alangkah zalimnya ia jika menyakiti Anna.
Apa dosa Anna, sampai tega harus hidup sengsara terkena virus
HIV? Mana itu takwa? Mana iman? Mana rasa percaya kepada
Tuhan? Mana keimanan kepada hari kemudian? Dan apa dosa
Kiai Lutfi sampai putri dan keluarganya dihancurkan? Apa dosa
pesantren Wangen sampai dikotori dengan kelaliman? Apa
nanti pandangan para santri dan masyarakat jika putri Kiai dan
menantu Kiai terkena HIV? Apakah demi syahwat dan nafsu
semua dijadikan korban? Alangkah bahagianya iblis dan setan?
Sampai tengah malam batinnya terus berperang. Malam itu
ia merasa sebagai manusia paling berbahagia di dunia, namun
juga merasa sebagai manusia paling nelangsa di dunia. Ia tidak
tahu harus bagaimana lagi menata hidupnya? Ia seperti berada
273
di tengah-tengah padang pasir yang gersang, yang sangat sepi,
tak ada jejak apa pun di sana. Dan ia tidak tahu harus berbuat
apa dan harus kemana?
Jam setengah tiga ia mendengar Anna mendesah lalu
memanggil namanya. Ia memejamkan mata pura-pura tidur. Ia
merasakan Anna bangkit. Turun dari ranjang. Lalu ia
merasakan kedua tangan Anna memegang kepalanya dan
isterinya itu mengecup keningnya.
Dadanya berdebar debar. Ia merasakan kesejukan luar
biasa. Ia merasa benar benar dicintai isterinya sepenuh jiwa.
Sejurus kemudian ia mendengar gemericik air dari kamar
mandi. Ia membuka kedua matanya. Saat Anna ia dengar
mematikan kran dan keluar dari kamar mandi ia pura-pura tidur
kembali. Anna mengambil sesuatu. Ia sedikit membuka
matanya. Remang-remang ia melihat isterinya itu memakai
mukenanya. Lalu mengambil sajadah dan shalat.
Ia tetap rebah di tempatnya. Ia bingung sendiri harus
berbuat apa? Ia malu pada Anna. Ia malu pada kebersihan
gadis itu. Apakah tega ia menyakitinya? Apakah tega ia
merusaknya dengan virus HIV hanya karena ambisi nafsunya.
Ia malu. Apakah ia sudah benar-benar tidak punya nurani dan
jiwa? Nuraninya menghujatnya. Matanya berkaca kaca.
Ia mendengar isterinya terisak-isak berdoa. Doa yang
sangat panjang.
Ia sangat faham isterinya. Di antara orang yang didoakan
isterinya adalah dirinya. Isterinya meminta kepada Allah, agar
dirinya dijadikan sebagai suami yang shalih yang selalu menjadi
penolong meraih kebaikan di dunia dan di akhirat, bukan
274
sebaliknya. Dia mendoakan agar dirinya diberi hidayah selalu,
dan dikaruniai rasa takwa selalu di mana pun dia berada.
Isterinya mendoakan dirinya dalam shalat malamnya.
Isterinya begitu mencintainya dengan sepenuh jiwa dan raga.
Apakah ia akan tega merusaknya?
Nuraninya bertanya. Dan ia hanya bisa merasakan pilu dan
nestapa yang luar biasa. Ia memejamkan matanya kuat kuat. Air
matanya meleleh.
”Mas, tahajjud!” Isterinya membangunkannya pelan.
Ia membuka matanya dan bangkit. Isterinya menatapnya
lekat-lekat.
”Mas menangis lagi? Kenapa?”
“Aku mendengar doamu Dik. Terima kasih ya. Semoga
Allah meridhaimu.”
“Amin. Mas, shalat tahajjud dulu. Nanti keburu subuh.”
“Baik Dik.”
275

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar